Pidato Menlu Sugiono untuk AS dan China, Singgun Isu Laut China Selatan dan Palestina

JAKARTA, iDoPress - Menteri Luar Negeri RI Sugiono menyampaikan sejumlah pernyataan dalam rangkaian acara Pertemuan Menlu ASEAN yang digelar di Manila, Filipina.

Salah satunya adalah pertemuan dengan mitra ASEAN dengan negara-negara adidaya seperti China dan Amerika Serikat. Pertemuan itu dilakukan di hari yang sama, Rabu (22/7/2026).

Dalam pertemuan kemitraan ekonomi ASEAN dengan China dan Amerika Serikat, Sugiono menekankan arah penguatan ketahanan dan stabilitas kawasan.

Singgung masalah Laut China Selatan

Sugiono menegaskan, besarnya skala hubungan ASEAN dengan China perlu diterjemahkan menjadi manfaat nyata bagi masyarakat, ketangguhan rantai pasok, dan kemampuan kawasan menghadapi berbagai guncangan.

Pada 2024, nilai perdagangan ASEAN-China mencapai USD 772,4 miliar atau sekitar

"Ini bukan sekadar angka, di baliknya ada lapangan kerja, pasar, rantai pasok, dan kesejahteraan masyarakat. Tugas kita sekarang adalah mengubah besarnya skala kemitraan ini menjadi ketahanan kawasan,” ujar Menlu Sugiono dalam keterangannya.

Sebab itu, Indonesia mendorong optimalisasi ASEAN–China Free Trade Area (ACFTA) 3.0 untuk memperkuat integrasi ekonomi yang semakin praktis, inklusif, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

"Kekuatan ekonomi kawasan tidak hanya diukur dari besarnya nilai perdagangan, tetapi juga dari sejauh mana manfaatnya menjangkau masyarakat dan pelaku usaha di luar pusat-pusat pertumbuhan," jelas Menlu Sugiono.

Dalam pidato tersebut, Sugiono juga menyinggung penguatan kerja sama perairan untuk penguatan perdagangan.

Menlu Sugiono menekankan perairan kawasan merupakan jalur utama perdagangan, konektivitas masyarakat, serta ketahanan energi dan pangan.

Dalam kaitan ini, Indonesia kembali mendorong penyelesaian Code of Conduct (COC) di Laut China Selatan yang efektif dan substantif pada tahun ini serta berlandaskan hukum internasional, khususnya UNCLOS 1982.

"Inilah mengapa code of conduct penting, dan Indonesia mendukung penyelesaian yang efektif dan substantif dalam tahun ini. COC yang kuat akan mengirimkan satu pesan: kawasan kita dapat menjaga stabilitas dan membentuk masa depannya sendiri," ucap Sugiono.

COC yang kuat dinilai akan menunjukkan kemampuan negara-negara kawasan untuk menjaga stabilitas dan menentukan masa depannya sendiri.

Kemitraan ASEAN-RRT karena itu harus menjadi bukan hanya penggerak pertumbuhan, tetapi juga penopang perdamaian kawasan.

Penafian: Artikel ini direproduksi dari media lain. Tujuan pencetakan ulang adalah untuk menyampaikan lebih banyak informasi. Ini tidak berarti bahwa situs web ini setuju dengan pandangannya dan bertanggung jawab atas keasliannya, dan tidak memikul tanggung jawab hukum apa pun. Semua sumber daya di situs ini dikumpulkan di Internet. Tujuan berbagi hanya untuk pembelajaran dan referensi semua orang. Jika ada pelanggaran hak cipta atau kekayaan intelektual, silakan tinggalkan pesan kepada kami.
©hak cipta2009-2020 Aceh Life Network      Hubungi kami   SiteMap